|
history of Quan Fa
Lineage
Wu Zu (the five ancestors)
Lo Ban Teng
Lo Siauw Gok
Lion and Dragon
dictionary
activities and publications


|

Orang Jerman Belajar Silat Lo Ban Teng Di Indonesia
Lo Ban Teng, guru silat terkemuka di lndonesia, juga seorang ahli pengobatan tradisional (sinshe).
Sebelum Kemerdekaan RI hingga di tahun 50-an namanya sangat terkenal di Jakarta terutama di daerah Glodok, Ia meninggal tahun 1958 namun namanya sampai saat ini masih tetap dikenang. Murid-muridnya tersebar di pelosok tanah air bahkan ada yang di luar negeri.
Untuk melestarikan silat Lo Ban Teng, putranya Lo Siauw Gok (57 tahun) mendirikan sasana di Taman Permata Indah II Blok L No. 11 Jakarta dan Model Toserba Tangerang.
Lewat cucu murid, silat Lo Ban Teng diperkenalkan di Berlin Barat, dan ternyata mendapat perhatian sangat besar dari orang Jerman Barat.
Seorang pelatih silat dari perguruan 'Choi School' dan bekerja sebagai tenaga komputer di Berlin Barat bernama Loahim, datang di Indonesia hanya untuk memperdalam silat (kungfu) Lo Ban Teng.
"Saya benar-benar bahagia dan gembira, bisa belajar dan memperdalam silat yang murni Lo Ban Teng di tempat asalnya, lndonesia," kata Loahim kepada "SP" seusai latihan di Model Toserba Tangerang, Rabu sore.
KELILING BANTENG
Pertama kali tahun 1981, Loahim sengaja datang dari Jerman Barat ke lndonesia, hanya untuk berjumpa dengan pengasuh perguruan silat Lo Ban Teng. Ketika itu ia tidak berhasil karena seseorang membawanya ke Lapangan Banteng. Beberapa hari ia keliling di Lapangan Banteng tidak berhasil menemuinya, akhirnya diputuskan untuk kembali
lagi ke Jerman Barat.
Sebagai ahli komputer, Loahim datang ke lndonesia. Karena ia ingin bertemu dengan pengasuh perguruan silat Lo Ban Teng, maka tidk malu-malu menanyakan kepada siapa saja, dan akhirnya ketemu juga. Waktu itu, Loahim merasa bahagia apalagi ada kesempatan baginya belajar silat di perguruan Lo Ban Teng selama satu bulan.
Gurunya, Lo Siauw Gok, pewaris Lo Ban Teng.
Setelah satu bulan belajar dengan tekun serta semangat tinggi dan disiplin, Loahim memperoleh sertifikat. Selain silat, ia juga diajarkan tentang pengobatan tradisional.
Bulan Februari lalu, Loahim kembali datang ke Indonesia, memperdalam silat Lo Ban Teng.
Diakui, ia sangat terkesan dengan silat Lo Ban Teng, dirasakan lain dari ilmu ilmu lainnya yang pernah dipelajarinya.
Loahim memang tidak bisa berlama-lama tinggal di lndonesia, karena tugasnya di Jerman Barat baik sebagai tenaga komputer dan pelatih di perguruan Choi School termasuk urusan keluarga. Selama di Indonesia, ia telah mengunjungi candi Borobudur dan Prambanan.
Tahun depan direncanakan lagi akan kembali ke Indonesia bersama istri dan anaknya. Saya benar-benar bangga dapat dua Zertifikat dari perguruan silat Lo Ban Teng, kata Loahim seraya menyebutkan silat tersebut akan dikembangkan di perguruan Choi School.
SEJARAH SINGKAT
Sementara itu Lo Siaw Gok mengatakan, ayahnya Lo Ban Teng dilahirkan di kota Tjiobee, Provinsi Hokkian Tiongkok, pada tanggal 1 (satu) bulan keenam tahun 2437 menurut hitungan Imlek (Masehi 1886). Semenjak lahir ia bertubuh kuat dan sehat-sehat sehingga ia dapat tumbuh dengan cepat dan badannya sangat kekar. Namun semasa keilnya dikenal sangat bandel dan suka berkelahi dengan teman-temannya.
Lo Ban Teng mulai belajar silat pada usia 17 tahun pada seorang guru yang bernama Yoe Tjoen Guan, yang merupakan salah seorang murid terbaik dari perguruan Siau Lim Ho Jang Pay. Pada usia 27 tahun Lo Ban Teng ditinggal wafat oleh gurunya, tetapi sesaat sebelum wafat gurunya sempat memberikan sebuah Ban Pinggang dan dua buah buku yang berisi resep obat-obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan
sejilid buku Catatan tentang ilmu silat Ho Yang Pay.
Pada tahun 1927 Lo Ban Teng datang ke lndonesia atas undangan salah seorang penduduk Tionghoa di Semarang, sesudah kurang lebih setahun menetap di Semarang ia membuka Rumah Obat dan menjadi Sinshe, tak berapa lama waktu berselang ia menikah dengan seorang putri dari Nyai Sujiah. Perkawinan Sinshe Lo Ban Teng dengan putri dari Nyai Sujiah mendapatkan banyak anak dan anaknya yang kedua bernama
Lo Siauw Gok yang lahir pada tahun 1931, yang dapat mewarisi keahlian Sinshe Lo Ban Teng dalam hal ilmu silat dan obat-obatan.
Lo Siauw Gok belajar ilmu silat secara serius pada ayahnya dalam usia 17 tahun tapi sebelumnya ia adalah anak yang nakal, tapi berkat keuletan serta kesabaran dari Sinshe Lo Ban Teng maka Siauw Gok dapat menguasai pelajaran yang diberikan oleh ayahnya baik dalam ilmu silat maupun keahlian tentang obat-obatan.
Kemudian pada tanggal 27 Juli 1958 Sinshe Lo Ban Teng meninggal dunia, maka Sinshe Lo Siauw Gok disebut sebagai ahli waris Ho Jang Pay sampai sekarang Lo Siauw Gok masih membuat obat-obat tradisional.
Obat-obat tradisional yang dibuat antara lain, obat sakit perut, obat kuat, obat gos(i)ok terutama bagi olahragawan, koyo dll. Praktek di Jl.Ketapang Utara I/140 B, Jakarta.
Putri Lo Siauw Gok, Ny. Lo Hak Swan yang tinggal di Tangerang dikenal sebagai pengusaha yang aktif melatih kaum ibu dan remaja untuk olahraga senam Model Toserba, sementara suami Ny. Lo Hak Swan bernama Masudi Tanu adalah guru silat ternama di Tangerang. Latihan senam dan silat setiap hari di Model Toserba lantai V, sangat luas dan nyaman.
Model Toserba juga merupakan satu-satunya toko serba ada yang memiliki lift di Tangerang.
-----------------------------------------------

ORANG JERMAN BELAJAR SILAT DI INDONESIA
Lo Ban Teng, guru silat terkemuka di Indonesia, juga seorang ahli pengobatan tradisional (sinshe).
Sebelum Kemerdekaan RI hingga di tahun 1950-an namanya sangat terkenal di Jakarta terutama di daerah Glodok. Ia meninggal dunia tahun 1958 namun namanya sampai saat ini masih tetap dikenang. Murid-muridnya tersebar di pelosok tanah air bahkan ada yang di luar negeri.
Untuk melestarikan silat Lo Ban Teng, putranya Lo Siauw Gok (57 tahun) mendirikan sasana (tempat latihan) di Taman Permata Indah II Blok L No. 11 Jakarta dan Model Toserba Tangerang.
Lewat cucu murid, silat Lo Ban Teng diperkenalkan di Berlin Barat, dan ternyata mendapat perhatian sangat besar dari orang Jerman Barat.
Seorang pelatih Silat dari perguruan "Choi School" dan bekerja sebagai ahli komputer di Berlin Barat bernama Loahim, datang di lndonesia hanya untuk memperdalam silat (kungfu) Lo Ban Teng.
"Saya benar-benar bahagia dan gembira, bisa belajar dan memperdalam silat yang murni Lo Ban Teng di tempat asalnya, Indonesia", kata Loahim kepada Wartawan Harian ini seusai latihan di Model Toserba Tangerang, baru-baru ini.
Kembali Lagi
Menurut Loahim, ia pertama kali datang dari Jerman ke lndonesia tahun 1981, tapi tidak berhasil menemui pengasuh perguruan silat Lo Ban Teng, karena seseorang yang membawanya itu keliling Lapangan Banteng. Tiga hari ia mencarinya, akhirnya kembali ke jerman Barat keadaan kecewa.
Sebagai ahli komputer, Loahim kembali datang ke lndonesia, akhirnya bertemu dengan Lo Siauw Gok, dan ia merasa bahagia sekali karena ada kesempatan belajar silat Lo Ban Teng. Selama satu bulan ia belajar tekun, kemudian diberikan sertifikat. Selain silat, ia juga, diajarkan tentang pengobatan tradisional.
Bulan Februari lalu, Loahim kembali datang ke lndonesia, memperdalam silat (kung-fu) Lo Ban Teng. Diakui, ia sangat terkesan dengan silat Lo Ban Teng, dirasakan lain dari ilmu-ilmu lainnya yang pernah dipelajarinya.
Loahim memang tidak bisa berlama-lama tinggal di Indonesia, karena tugasnya di Jerman Barat baik sebagai tenaga komputer dan pelatih di perguruan Choi School termasuk urusan keluarga. Selama di lndonesia, ia telah mengunjungi Candi Borobudur dan Prambanan.
Sejarah Singkat
Sementara itu Lo Siauw Gok mengatakan, ayahnya Lo Ban Teng dilahirkan di kota Tjiobee, Provinsi Hokkian Tiongkok, pada tanggal 1 (satu) bulan keenam tahun 2437 menurut hitungan Imlek (Masehi 1886). Semenjak lahir ia bertubuh kuat dan sehat-sehat selalu sehingga ia dapat tumbuh dengan, cepat dan badannya sangat kekar, semasa kecilnya ia sangat bandel dan suka berkelahi dengan, teman-temannya.
Lo Ban Teng mulai belajar silat pada usia 17 tahun pada seorang guru yang bernama Yoe Tjoen Guan, yang merupakan salah seorang murid terbaik dari perguruan Siaw Lim Ho Jang Pay. Pada usia 27 tahun Lo Ban Teng ditinggal wafat oleh gurunya, tapi sesaat sebelum wafat gurunya sempat memberikan sebuah Ban Pinggang dan dua buah buku yang berisi resep obat-obat untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit dan sejilid buku Catatan tentang ilmu silat Ho Yang Pay.
Pada tahun 1927 Lo Ban Teng datang ke Indonesia atas undangan dari salah seorang penduduk Tionghoa di Semarang, sesudah kurang lebih setahun menetap di Semarang ia membuka Rumah Obat dan ia menjadi Sinshe. Tak berapa lama waktu berselang ia menikah dengan seorang putri dari Nyai Sujiah. Perkawinan Sinshe Lo Ban Teng dengan putri dari Nyai Sujiah mendapatkan banyak anak dan anaknya yang kedua bernama Lo Siauw Gok yang lahir pada tahun 1931, mewarisi keahlian Lo Ban Teng dalam hal ilmu silat dan pengobatan tradisional.
Lo Siauw Gok belajar ilmu silat secara serius pada ayahnya pada usia 17 tahun tapi sebelumnya ia adalah anak yang nakal, tapi berkat keuletan serta kesabaran dari Sinshe Lo Ban Teng maka Siauw Gok dapat menguasai pelajaran yang diberikan oleh ayahnya.
Kemudian pada tanggal 27 Juli 1958, Sinshe Lo Ban Teng meninggal dunia, maka Sinshe Lo Siauw Gok disebut sebagai ahli waris Ho Jang Pay, sampai sekarang Lo Siauw Gok masih membuat obat-obat tradisional seperti obat sakit perut, obat menambah tenaga terutama bagi olahragawan, koyo, obat gosok dll.
Sinshe Lo Siauw Gok buka praktek di Jl. Ketapang Utara I No. 140 B Jakarta, sementara putrinya Ny. Lo Hak Swan selain mengelola toko serbaguna di Tangerang juga guru senam Model Toserba khusus bagi kaum ibu dan gadis-gadis remaja.
-----------------------------------------------

Jumat malam lalu, di ruang latihan Pencaksilat Lo Ban Teng beraliran Kung Fu Selatan (Hokian) di kawasan Kampung Gusti, Jakarta Utara.
Empat orang Jerman tampak asyik berlatih. Mereka terdiri dari Loahim, Xenia, Karsten, dan Thomas.
Loahim, mantan tentara, telah belajar Kung Fu Lo Ban Teng selama sekitar 6 tahun.
Di Jerman, selain sebagai guru beladiri, ia bekerja sebagai programmer komputer.
Dialah yang membawa ketiga muridnya untuk ujian kenaikan tingkat di Indonesia, kepada seorang guru besar bernama Lo Siauw Gok.
Mencari yang Terbaik
Berikut adalah wawancara BOLA Sabtu lalu dengan Loahim di Tangerang, kawasan tempat di mana ia menginap selama berada di lndonesia? Untuk mempelajari Kung Fu Lo Ban Teng ini, mengapa anda justru datang ke Indonesia? Mengapa, misalnya, anda tidak pergi ke Cina, Hongkong, Singapura atau negeri-negeri lain?
Dalam usia 14 tahun saya mempelajari olahraga Budo. Saya mempelajari jujitsu, judo, dan karate.
Sementara itu, saya juga selalu berusaha mencari yang terbaik. Suatu kali saya dengar bahwa di lndonesia ada - itu makanya saya datang ke sini. Dan saya pikir, saya telah mendapatkan yang terbaik. Suhu saya, Lo Siauw Gok, adalah yang terbaik. Caranya mengajar sangat saya sukai. Bagi saya, ia bukan hanya seorang guru, tetapi ayah.
Keluarganya sangat bersahabat dan bersikap manis terhadap saya, sampai saya tidak tahu lagi bagaimana caranya mengucapkan terima kasih. Saya hanya bisa mengatakan,
bahwa saya akan selalu datang ke sini setiap tahun. Dan, saya bangga untuk semua yang saya lakukan.
Satu Gerakan
Menurut anda, apa kelebihan Kung Fu Lo Ban Teng? Anda tahu, sebelum datang ke Indonesia saya sudah belajar Kung Fu Shantung selama 12 tahun. Gaya pertarungan dalam Shantung sangat berbeda dengan Lo Ban Teng. Dengan Lo Ban Teng, jika anda menguasai dengan baik, anda dapat mengakhiri suatu pertarungan dengan hanya satu gerakan. Inilah yang saya sukai pada Kung Fu Lo Ban Teng. Selama 12 tahun anda menekuni Kung Fu Shantung, maka beralih ke Kung Fu Lo Ban Teng? Mengapa?
Seperti sudah saya katakan, saya berlatih Kung Fu Shantung selama 12 tahun. Ia hanya bagus untuk pertunjukan. Kelihatannya sangat indah.
Pada dasarnya, saya tidak suka berkelahi. Itu bukan alasan saya mempelajari beladiri. Jika saya harus berkelahi pun saya harus tahu dulu alasannya.
Memang, ketika masih menekuni beladiri-beladiri sebelumnya, saya merasa sangat muda, kuat. Lalu saya juga menyukai mentalitas Asia. Semua itu dikombinasikan dalam Budo. Dari sanalah saya juga berpikir untuk tetap bertahan seraya mencari yang terbaik. Lo Ban Teng saya kira yang terbaik, hingga kini, dan seterusnya.
Pernahkah anda melihat beladiri-beladiri Asia lainnya seperti Pencaksilat Bangau Putih, Cimande, dan lain-lain?
Saya tidak tahu. Memang saya pernah mendengar tentang beladiri-beladiri lain yang berbeda. Saya juga pernah melihat Pencaksilat di Berlin. Tetapi apa yang saya lihat itu, sepertinya sama dengan Kung Fu Shantung. Selama di Indonesia sendiri saya belum pernah melihat Pencaksilat. Tetapi saya punya banyak buku, baik tentang Kung Fu maupun Pencaksilat dari gaya yang berbeda-beda. Tetapi bagi saya, semuanya itu
sama saja dengan Kung Fu Shantung. Maaf, ini bukan pendapat saya pribadi saja. Banyak murid yang datang kepada saya, sebelumnya adalah murid-murid Shantung. Seperti saya, mereka datang untuk mendapatkan yang terbaik.
Sangat Mahal
Anda tentu banyak mengeluarkan biaya untuk bisa datang ke Indonesia setiap tahun...
Banyak sekali. Sangat mahal memang. Untuk satu tiket saja saya menghabiskan sekitar Rp 2,1 juta. Untungnya saya punya posisi yang baik di kantor. Sedangkan banyak
murid saya, kebanyakan pelajar, terpaksa tak bisa datang ke sini. Karena itu, saya kira, akan jauh lebih baik jika suhu saya yang datang ke Jerman. Ini lebih murah. Saya cuma, mungkin, cukup menyediakan dua tiket.
Dalam usia 50 tahun sekarang ini, anda masih saja bersemangat untuk melakukan banyak hal. Apa yang anda cari?
Di Jerman, saya adalah seorang guru Kung Fu Lo Ban Teng. Sebagai guru, saya ingin mengajarkan yang terbaik kepada murid-murid saya. Untuk dapat memberikan yang terbaik, saya harus datang ke Indonesia terus menerus, juga untuk meningkatkan kemampuan saya sendiri.
Berapa penghasilan anda sebagai programmer komputer dan sebagai guru Kung Fu? (Tertawa) Untuk ukuran Jerman, saya pikir, saya tidak banyak menghasilkan uang begitu banyak. Juga sebagai guru Kung Fu Lo Ban Teng.
Tetapi selain guru Kung Fu, saya juga mengajar di 'Choi Taekwondo School' dua kali
seminggu selama dua jam, meskipun dari sana saya tidak memperoleh uang banyak.
Oya, kami mendapatkan ruang latihan dari boss saya, orang Korea, pemilik ruang latihan taekwondo. Sayangnya, di ruangan itu saya tidak bisa memasang foto suhu saya karena dilarang. Jadi, jika murid-murid saya ingin melihat guru besar mereka, mereka harus datang ke rumah saya, baru saya perlihatkan.
Persentase penghasilan anda, mana yang lebih besar: sebagai programmer komputer atau sebagai guru beladiri? Persentasenya? 95:5.
Ketika kecil, apakah anda seorang anak yang nakal? Nakal? Tidak. Saya tidak suka berkelahi.
APA ITU LO BAN TENG?
Aliran silat Lo Ban Teng diturunkan oleh seorang pendekar bernama Lo Ban Teng sendiri. Lo Ban Teng dilahirkan di kota Tjiobee, Provinsi Hokkian, Cina, tanggal 1 bulan keenam tahun 2437 menurut hitungan Imlek, atau tahun 1886 menurut hitungan Masehi.
Aliran ini sesungguhnya bukanlah silat dalam pengertian Pencaksilat yang kita kenal di Indonesia. Ia sesungguhnya beraliran Kung Fu dari Hokkian (Selatan), dan bukan Shantung (Utara).
Lo Ban Teng mempelajari aliran ini dari seorang guru bernama Yoe Tjoen Guan, salah seorang murid terbaik dari perguruan Siaw Lim Ho Jang Pay.
Lo Ban Teng datang ke Indonesia, atau tepatnya ke Semarang pada tahun 1927 atas undangan seorang Cina Semarang. Di sanalah ia kemudian menetap, seraya membuka Rumah Obat dan menjadi Sinshe. Ia lalu menikah dengan seorang gadis anak dari Nyai
Sujiah. Dari perkawinan itulah lahir antara lain Lo Siauw Gok pada tahun 1931. Lo Siauw Gok mewarisi hampir seluruh ilmu ayahnya.
Marsudi Tanu, salah seorang murid sekaligus menantu Lo Siauw Gok, menjelaskan kepada BOLA, Sabtu lalu di kantornya, Tangerang, beladiri Kung Fu itu kini sedang diusahakan untuk didaftarkan menjadi anggota IPSI (Ikatan Pencaksilat Seluruh Indonesia).
Lo Ban Teng, menurut Marsudi, Dan V Shindoka ini, memang akan terus dikembangkan agar lebih sesuai dengan kebudayaan lndonesia asli. Sebagai salah satu pewaris. Marsudi merasa berkepentingan melakukan hal itu sambil tetap menjaga kemurniannya.
Pariwisata
Di luar negeri, Lo Ban Teng berkembang antara lain di Jerman dengan Loahim sebagai guru besarnya. Menurut Marsudi, Loahim kini memiliki sekitar 200 orang murid yang kemungkinan masih akan terus bertambah dari tahun ke tahun.
Dari mereka, hampir setiap tahun datang ke Indonesia, termasuk Loahim sendiri sebagai pendamping. "Sampai bulan ini saja sudah 6 orang yang datang ke lndonesia." kata Marsudi. Maka jika pemerintah sedang menggalakkan dunia pariwisata. Marsudi pun merasa turut berpartisipasi menunjang program itu.
"Saya turut membantu melalui beladiri ini," ujarnya seraya tertawa.
Beladiri ini memang banyak diminati karena, seperti kata Loahim, berbeda dengan beladiri serupa yang berasal dari Shantung (Utara). Kung Fu Hokkian (Selatan) ini lebih mengandalkan serangan pada gerakan tangan, sedangkan Shantung lebih pada gerakan kaki.
|